Mendengarkan

Macem-macem aja.. ada aja yang terlewat.. Kejadiannya udah beberapa kali sih.. Soal mendengarkan.

Aida (lagi-lagi Aida hehe) bener-bener bikin aku seperti “anak sekolah” lagi. Aku harus belajar banyak hal dari dia. Kita sama-sama belajar sebenernya..

Jadi orangtua tuh sering banyak “lupa”nya. Kadang-kadang kita asyik dengan peran kita sebagai orangtua. Kalo kita “terlalu menghayati” peran orangtua, menurut aku, akan terjadi ketidaksejajaran dalam keluarga. Sama halnya kalo kita “terlalu menghayati” peran sebagai suami atau sebagai istri. Padahal dari awal aku ingin anggota keluargaku, aku, Affan dan Aida, menjadi team, menjadi sahabat. Dan awal dari persahabatan itu adalah mau mendengarkan…

Aku juga sering lupa, keasyikan dengan “peran”ku sebagai orangtua. Mungkin karena faktanya Aida masih kecil, sehinga seringnya aku mendengarkan tapi tidak mendengarkan… apa ya… hearing but not listening gitu deh… Keegoanku sebagai orangtua membuat aku menganggapnya tidak penting (hiks). Kadang-kadang aku hanya memberi tanggapan berupa, “Hmmmm…”, “Oyaaa?”, “trus…?”.. dan sebagainya yang hanya berupa tanggapan pendek dan ngga penting. Itupun seringkali sambil aku terus membaca atau mengetik… (duhhh maafkan mama ya nak… mama juga manusia, banyak lupanya).

Dua hari yang lalu, ketika kita, aku dan Aida, sedang ada di ruang duduk. Dia sedang coret-coret sesuatu di berlembar-lembar kertas, dan aku, seperti biasa, di depan komputer. Sepintas, aku mendengar dia sedang berusaha membuat huruf. Aku mendengar (hear) dia sedang berkata sambil menyoretkan pinsil di kertas, “Ini letter biiiii….”, lalu “ini emmmmm…” dan sebagainya… Dan aku terus di depan komputer, sambil sekali-kali mengomentari tanpa menengok, “Hmmm bagus… trus??”, dan sebagainya..

Lalu tiba-tiba, aku sadar kalo sudah tidak ada lagi suara Aida menyebut huruf-huruf. Aku segera menoleh padanya, dan melihat dia sedang duduk di kursi “sekolah”nya sambil melihat padaku. Dia mengatakan satu kalimat yang akan aku jadikan pegangan seumur hidup, (aku harus selalu ingat itu)….

“MAMA NIH…. DENGERIN AIDA DONG……”

Ah…. Ya ampunnnn!!!!! Tapi aku bersyukur juga, Aida sudah membuatku sadar dari keasyikanku “menghayati” peran, sehingga aku tidak lagi memandang penting pada “peran” orangtua… Aku harus jadi sahabatnya.

******

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>