Yuhuuu…. judulnya booook…
Terinspirasi dari tema kopdar milis Dunia Ibu… mengkomunikasikan hubungan seks dengan suami… Hua… entah kenapa, banyak orang, khususnya perempuan yang merasa tidak pantas membahas ini. Mendengar kata SEKS, seperti dosa, apalagi membahasnya…
Masa sih? Lalu seks itu ditempatkan di mana? Hanya rangkaian rutinitas dalam pernikahan? Hanya suatu bentuk kewajiban? Bolehkah kita, perempuan/istri, menolak atau meminta? Apakah kita boleh merasa bosan? boring (bosan dan garing)? hehehe…
Ketika kita pacaran, hanya melihat bayangan si pacar saja sudah bikin deg-degan.. Lalu ketika baru menikah, waaaahh… rasanya dunia begitu indahnya… setiap saat maunya berduaan saja..
Akan tetapi, seiring dengan berlalunya waktu, keadaan tidak lagi sehangat masa pengantin baru. Apalagi dengan bertambahnya kegiatan, hadirnya anak, dan sebagainya..
Artinya si pasangan harus sadar bahwa mereka ada di dunia nyata. Ada pasang surut perasaan dan mood. Manusiawi kan sebenarnya? Baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Sayangnya, di dunia yang patriarki ini, hampir tidak pernah terangkat cerita tentang laki-laki (suami) yang bosan terhadap seks, yang enggan berhubungan seks.
Sementara sebaliknya, dengan mudah kita temui cerita-cerita tentang istri yang enggan melakukan hubungan seks dengan suaminya.
Bahkan ada beberapa kasus penganiayaan istri oleh suami, karena istri menolak melayani suami, bahkan tidak sedikit pula yang berakhir dengan pembunuhan.
Apa artinya? Artinya secara umum orang-orang memandang bahwa seks adalah kewajiban mutlak bagi istri, dalam arti luas lagi melayani suami adalah kewajiban mutlak istri. Sehingga istri yang menolak melayani suami dipandang sebagai istri yang durhaka. Istri, atau perempuan secara umum, merupakan subordinat dari suami atau laki-laki.
Celakanya lagi, masih ada juga pandangan yang menyatakan bahwa istri yang meminta hubungan seks dengan suami adalah istri yang “nafsu seksnya tidak terkendali”. Hahaha… mungkin saat sekarang sudah jarang orang-orang yang berpandangan seperti itu, tapi tidak menutup kemungkinan kalau masih ada.
Waktu diskusi dalam kopdar milis DI tempo hari, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya yang menjadi masalah bukan karena penolakan, tapi cara menolaknya.
Jadi masalah komunikasi lah kunci utamanya. Cara kita menyampaikan penolakan, atau cara kita meminta. Kalau cara kita menolak secara kasar, tentulah suami akan sakit hati.
Yang patut diingat, yang dibenci Allah adalah menyakiti hati orang lain dalam hal ini suami, bukan karena menolak untuk melayani.
Ngga salah kalau istri suatu ketika menolak berhubungan seks dengan suami, asal disampaikan secara santun, jelaskan alasannya.
Tentu saja hal ini berlaku juga bagi para suami, untuk meminta atau menolak secara santun. Karena laki-laki perempuan, suami istri merupakan mitra sejajar, yang amalannya tidak dibeda-bedakan oleh Allah berdasarkan jenis kelamin.
****
Saat ini, aku tengah membaca buku KEMBANG SETAMAN PERKAWINAN karya ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Buku ini merupakan analisis kritis terhadap karya seorang ulama, Syeikh Nawawi al Bantani, yang berjudul ‘UQUD AL-LUJJAYN. Sebuah buku yang perlu dibaca oleh semua orang, laki-laki dan perempuan. Yang membongkar apa yang selama ini diyakini dan dibakukan oleh sebagian besar masyarakat mengenai relasi laki-laki perempuan, serta suami istri..
Aku bukan pe-resensi buku yang baik. Tapi aku bisa menyarankan pada orang-orang untuk membacanya. Bahkan aku sudah berpikir untuk menghadiahi buku tersebut untuk teman-temanku yang akan berulang tahun, atau akan menikah….
halo Ika, lam kenal ya:)
Wah, aku suka neh tulisanmu hehehe…
Tapi jujur aja, komunikasi memang penting banget, makanya aku gak segan2 ngomong masalah yang satu ini ke suami. Sama-sama terbuka. Bagiku sex bukanlah kewajiban ataupun rutinitas, tapi lebih kepada wujud cinta itu sendiri.
Aku link ya!
Have a great day