Kenapa Tawuran Sering Terjadi?

Ini pemikiran bangun tidur :) .

Gara-gara begitu bangun kok di depan mata ada berita 3 tawuran yg terjadi malam tadi di beberapa wilayah Jakarta.

Ini baru di Jakarta, lah di daerah lain???

Ini baru kejadian malam tadi, lah malam2 sebelumnya???

Jadilah saya mencoba menganalisa, walau secara acak dan yah, asal-asalan mungkin, bagi mereka yang sukanya kembali ke teori2 atau dalil2.

‘Analisa’ acak-acakan saya ini ya benar2 berdasarkan pengamatan saya, subyektifitas saya. Meskipun begitu saya yakin ini sangat erat kaitannya dengan keadaan yg serba tawur ini.

Nanti kalau saya berada dalam mood yang bagus, mungkin saya akan mencari dasar-dasar teori yg menguatkan pendapat saya itu. Atau akan ada di antara teman-teman saya yang melakukan pengujian hahaha.. *ngarep*

Sebenarnya, akar masalahnya jelas. Solusinya pun jelas. Akan tetapi rasanya jadi sia-sia saja karena apapun idenya kalau kata penguasa ‘A’ ya yang terjadi dan dilakukan ya ‘A’.

Berikut pemikiran saya tentang kenapa tawur semakin subur saja… (termasuk tawur di ruang sidang parlemen, di KPUD, di sekolah (bully), di jalan, preman dll dll)

1. Penguasa merangkul preman, penguasa bertindak kayak preman, preman lebih berpengaruh dari, yang terjadi yaaa tawuran orang dewasa, rebutan ‘lahan’, rebutan pengaruh (politis) dll dll, bisa diamati sendiri dari peristiwa sehari2.

2. Tawuran remaja tidak terjadi begitu saja. Ada rangkaiannya. Mungkin orang dewasa yg tawuran, preman2 yg ada (dan sekarang malah dilegalkan dan diformalkan), juga ada dalam satu rangkaian awal ini.

3. Awalnya, adalah politisasi dan ‘bisnisasi’ pendidikan. Dimana anak2 di’doktrin’, sehingga segalanya ‘diberikan’ dan harus dihafalkan.

4. Guru diberi target, sehingga anak2 ditargetkan. Tidak mencapai target artinya guru atau sekolah itu gagal, jadi beban anak tambah berat, karena tuntutan sekolah dan guru untuk tidak mempermalukan mereka.

5. Sehingga sekolah bukan lagi merupakan tempat belajar. Tapi tempat indoktrinasi. Sekolah artinya menghafal. Nalar tdk berguna, dan berbahaya, jawaban berbeda artinya salah total!

6. Ketika nalar tidak dilatih, karena ketakutan akan kata ‘salah’ dan ‘bodoh’, maka nalar akan tidur.. Akibatnya: penyelesaian masalah artinya tawur (atau bunuh diri *hiiii*)

7. Orang/anak yg pintar menghafal bisa dipastikan nilainya bagus. Itu yg diinginkan penguasa negara ini dgn memaksakan UN dll.

8. Penguasa tdk peduli dgn nalar, krn ya itu tadi, justru kalau bisa nalar itu ditimbun. Makanya, anak yg ‘beda’ dan ‘kritis’ dianggap nakal, berandal, suka melawan…

9. Jadi, pembodohan nalar memang terjadi secara sistemik. Sialnya orangtua yang panik jadi kebawa arus. Ikut arus yang dibuat penguasa

10. Orangtua ikut memaksa anak supaya dapat nilai bagus, makanya tiap musim ulangan banyak orantua yang ngomel2 sambil ngajarin (atau maksa) anaknya untuk menghafal, kalau anaknya masih dianggap ga hafal dikatain bego, malas dll. Langkah akhir orangtua adalah: membuatkan ringkasan pelajaran supaya anak bisa lebih gampang menghafal!! Tepuk tangan dulu untuk orangtua yang kayak gini!

11. Itu karena orangtua takut nilai anaknya jelek, karena jawabannya ga sama buku atau kunci soal atau kata gurunya. Itu yang namanya indoktrinasi

12. Anaknya ga boleh mikir, ga dilatih problem solving, yang penting nilai bagus, gimanapun caranya.

13. Yang dilatih adalah bagaimana mendapatkan apa yang diinginkan, apapun caranya. Maka yaaaaa… jreng jreng… satu2nya cara yg diketahui ketika ada masalah adalah: Tawur.

14. Jadi kesimpulan saya kalau mau ga ada tawur2an lagi, ya rombak metoda pendidikan, jgn berorientasi politis atau bisnis. Tapi, seperti yang saya bilang sebelumnya tadi, sia-sia… (hmmmm jangan-jangan benar, saya sudah terjangkit apatisme)

Akhir dari pemikiran saya pagi ini (hahahahaha), jadi ingin melakukan penelitian, orang yang seperti apa yang banyak melakukan tawur atau gabung jadi preman.

Perkiraan saya, mereka itu adalah: 1. Orang yang nilai akademis bagus tapi nalar jongkok, atau 2. Orang yg memang pada dasarnya bego, ya krn hafalannya ga bagus, ya nalarnya, sehingga jadi kacung orang yang pinter tapi nalar jongkok.

Sumber Gambar: Padang Today 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>