Catatan yg pernah saya buat beberapa tahun lalu, dan saya posting lagi sekarang karena ada beberapa peristiwa yang membuat saya teringat pernah menuliskannya
.
Rencananya saya akan membuat beberapa tulisan mengenai pergaulan di kalangan anak-anak, mudah-mudahan malam ini tidak terlalu mengantuk..
Sekedar berbagi saja dengan orangtua, yang concern dengan anaknya tentu. Tidak hanya masalah akademis, tapi juga masalah pergaulan dan sosialisasi…
************
Beberapa malam lalu, setelah posting macam2 artikel tentang parenting yang topiknya bisa dikatakan merupakan rangkuman dari bukunya Rosalind Wiseman, Queen Bees and Wannabees, saya iseng-iseng menjawab pertanyaan-pertanyaan quiz, yang konon bisa mengindikasikan apakah anak anda pe-bully atau berpotensi sebagai “korban” bully.
Walaupun banyak pilihan jawaban dalam quiz itu menggoda saya, karena sesuai dengan “ideal”nya saya, maunya saya, akhirnya saya berhasil menjawab quiz tersebut dengan seobyektif mungkin.
Dan saya bisa berbangga karena saya ternyata cukup mengenal anak saya. Hasil quiz itu tidak berbeda dengan apa yang selama ini saya ketahui tentang anak saya, yaitu: Chatterbox.
Anak yang berperilaku tipe “chatterbox” ini biasanya ramah dan suka sekali berbagi cerita dengan anak lain, dan menularkan antusiasme mereka.
Hal ini mengingatkan saya, entah berapa kali guru-guru mulai dari pra TK, sampai kelas 3 sekarang ini, memberikan laporan yang sama.
Anak saya suka ngobrol. Waktu main, waktu makan, waktu akan tidur, bahkan waktu belajar di kelas. Bukan ngobrol menggosipkan orang lain, tapi menceritakan pengalamannya, ide-idenya, bacaan apa yang baru dibacanya, khayalan-khayalannya.
Dia selalu ingin membagi apa yang ada di otaknya, yang bagi kebanyakan orang merupakan kegiatan ngobrol, hahahahaha…
Dia masih harus selalu diingatkan untuk fokus pada hal yang harus dikerjakannya, terutama jika hal tersebut tidak menarik hatinya, seperti makan! Mereka sangat mengikuti dorongan hati.
Kadang-kadang anak chatterbox membuat teman-temannya jadi terkena masalah karena mereka mengikuti atau bergabung dalam tindakan petualangannya. Tidak dengan paksaan, karena anak chatterbox menularkan antusiasmenya pada anak lain.
Bukan cuma sekali juga saya mendapat laporan bahwa anak saya telah menyebabkan temannya jadi terlambat menyelesaikan pekerjaannya, atau tidak menghabiskan makan, karena si teman jadi ikut ngobrol, menanggapi apa yang dibicarakan anak saya…
.
Dan itu hanya satu contoh dari sekian banyak peristiwa, dimana dia mengajak teman-temannya mewujudkan “ide” permainannya.
Kekuatan anak chatterbox adalah tingkah laku yang positif, dalam pengertian dia tidak melakukan intimidasi pada orang lain, tidak menggunakan kekerasan fisik maupun ejekan-ejekan.
Sedangkan kelemahan anak chatterbox adalah mereka berkecenderungan terjun dalam suatu keadaan tanpa berpikir akibatnya dulu. Mereka tidak suka ditekan, akan melawan jika ada orang yang berusaha melakukannya.
Hal ini mengingatkan saya beberapa peristiwa, seperti mendadak anak saya tidak lagi mau bermain bersama seorang teman yang tadinya menurut saya mereka cukup akrab. Setelah saya tanya, dan setelah ada pertanyaan dari orangtua teman anak saya itu kenapa anak saya tidak mau lagi main dengan anaknya, saya mendapat jawaban bahwa dia tidak mau kalau diatur-atur dengan siapa boleh main dan dengan siapa tidak boleh main.
Begitu juga dengan peristiwa ketika dia “dimusuhi” oleh beberapa orang teman perempuannya, karena dia tidak mau mengikuti kemauan seorang anak perempuan yang dalam buku Rosalind Wiseman disebut “queen bee” ini.
Akibatnya, si anak perempuan itu mengajak teman-teman lain untuk tidak berteman dengan anak saya. Saya tidak akan ikut campur waktu itu karena saya percaya anak saya bisa mengatasi masalahnya sendiri, dia akan melawan, kalau saja si anak perempuan itu tidak mengirimkan SMS berupa caci maki dan ancaman pada anak saya.
Anak saya sempat membalas, akan tetapi saat itu juga telepon selularnya saya pegang, jadi dia tidak lagi menerima SMS-SMS balasan caci maki tersebut, dan tidak lagi membalasnya.
Menurut saya, apa yang dilakukan anak itu bisa dikategorikan cyber bullying, menjurus ke teror dan akibatnya bisa lebih gawat kalau tidak diantisipasi.
Bukan hanya saya laporkan pada guru-guru mereka, saya pun segera mengganti nomor selular anak saya.
Sayangnya, orangtua si anak perempuan itu tidak menganggap apa yang dilakukan putrinya merupakan tindakan bully.
Sesuatu yang memang sudah bisa diduga, karena umumnya memang begitu, orangtua pe-bully atau queen bee tidak memandang apa yang dilakukan anak mereka merupakan kelainan…
Malah kadang-kadang justru yang diungkapkan adalah rasa bangga karena anak perempuan mereka lebih mandiri dan dewasa.
Biarlah, yang penting saya melakukan apa yang harus saya lakukan terhadap anak saya, yang ‘chatterbox’…