(Kelompok) Pertemanan Anak-anak (Kita)

Hmmmm.. mulainya dari mana ya?

Tadinya, saya ingin menulis peristiwa yang terjadi di sekitar pergaulan anak-anak saya, berdasarkan pengamatan saya tentunya.

Peristiwa sekarang tidak secara langsung melibatkan anak saya, walaupun beberapa waktu sebelumnya pernah juga.

Yang jelas, ide tulisan ini muncul dari beberapa orangtua yang concern pada permasalahan di dunia pergaulan anak.

Di mana kita yakin jika hal ini dibiarkan, atau dipahami sebagai “Ahhh itu kan cuma masalah anak-anak”, maka bukan tidak mungkin cikal bakal bully sudah bertunas.

Apalagi, peristiwa ini tidak terjadi sekali, atau dua kali. Bahkan pernah juga mengarah ke cyberbullying.

Kemudian, muncul pertanyaan;

- Apa iya, tindak intimidatif hanya mungkin dilakukan oleh anak-anak yang punya kepribadian kuat (atau populer atau ekstrovert, atau ekspresif, atau kelihatannya cerewet)?

- Apa anak-anak yang tampaknya pendiam, manis, introvert selalu tidak ‘populer? Mereka tidak mungkin melakukan tindakan intimidatif?

- Bukankah anak yang bisa mendapatkan ‘pengikut’ secara gamblang bisa dikatakan sebagai anak “populer” sekalipun dia tampaknya pendiam?

Ada banyak peristiwa yang saya amati, yang membuat saya menyadari dan akhirnya meyakini bahwa sekalipun “masih anak-anak“, kita yang sudah dewasa pun harus mewaspadai bahwa apa yang mereka perlihatkan pada kita adalah apa yang selama ini kita inginkan mereka perlihatkan pada kita.

Tapi memang lebih mudah menjatuhkan penilaian pada anak yang ekstrovert, ekspresif, atau yang cerewet (seperti anak saya hehehe).

Baiklah… mungkin saya mulai dulu dengan karakteristik pergaulan anak-anak, khususnya umur 8-15 tahun.

Di usia 8 – 15 tahun, anak-anak lebih mulai menyadari pertemanan pun ada seleksi. Mereka akan berteman dengan anak yang cocok dengan mereka.

Biasanya proses ini sudah mulai ketika mereka duduk di kelas 1 SD, dan di kelas 3 mulai terlihat mengerucut, alias sudah terlihat hasilnya dengan siapa anak kita lebih sering bersama.

Ada beberapa anak yang mulai membentuk kelompok dengan beberapa orang teman, ada juga yang tetap memilih untuk berdua saja, bahkan ada juga yang tidak berkelompok. Tergantung sifat dan karakter anak-anaknya juga.

Pertemanan, bahkan juga kelompok pertemanan merupakan bagian penting dari perkembangan anak.

Sesungguhnya memiliki teman dapat membantu anak-anak untuk lebih mandiri, di luar keluarga, juga mempersiapkan mereka untuk memiliki hubungan yang sehat dan bertanggung jawab jika sudah dewasa nanti.

Persahabatan ini tumbuh dari kesamaan minat, olahraga, kegiatan, tetangga, atau bahkan karena hubungan keluarga.

Dalam kelompok pertemanan atau persahabatan ini, setiap anggota bebas untuk bersosialisasi atau bermain dengan teman lain di luar kelompok, tanpa takut disingkirkan.

Akan tetapi, tanpa kita (para orang dewasa) sadari, bahkan sering menganggap remeh, kelompok pertemanan itu berkembang menjadi ‘clique‘.

Clique‘, memang awalnya memiliki kesamaan minat, akan tetapi kemudian memiliki dinamika sosial yang berbeda.

Biasanya, clique dikontrol secara ketat oleh seorang yang dianggap pemimpin. Pemimpin itulah yang memutuskan siapa yang “masuk” dan siapa yang “keluar” dari kelompok itu.

Anak-anak di dalam ‘clique‘ itu mengerjakan banyak hal bersama. Dan siapapun  yang memiliki teman di luar ‘clique‘ itu akan mendapat penolakan, bahkan bisa juga dijelek-jelekkan.

Nah, sampai di sini, pasti masih ada yang berpikir “Halaaaaaah!! itu kan masalah anak-anak… Jangan-jangan sebenernya masalah ibunya aja tuh, yang ga terima anaknya ga masuk kelompok “populer”.

Yah.. ini tulisan belum selesai :)

Masih ada..

Pertemanan dalam clique ini tidak sehat. Karena dalam clique, anak-anak yang ada di dalam kelompok itu selalu mengekor apa yang diinginkan atau yang sedang disukai sang pemimpin.

Dengan kata lain, mereka tidak bisa menjadi diri sendiri.

Mulai dari model baju, sampai pilihan ekstra kurikuler, mereka akan menunggu sampai sang pemimpin memutuskan ikut kegiatan apa, dan biasanya pilihan mereka sama dengan pilihan sang pemimpin.

Bahkan jika sang pemimpin sedang tidak menyukai seorang teman, maka teman-teman sekelompok itu akan ikut menjauhi. Termasuk terhadap anggota ‘kelompok’ itu sendiri.

Para pengikut akan berhati-hati dalam bertindak supaya tidak membuat hati sang pemimpin gusar.

Ada yang menganggap apa yang dilakukan anak-anak “pengikut” itu adalah bentuk setia kawan, sehingga mereka secara sukarela melakukannya.

Mmmm… tanyakan ada anak-anak ‘pengikut’ itu, apakah si ‘pemimpin’ itu pernah menyuruh begini begitu.

Tapi anak-anak itu sudah ditanya dan mereka menjawab “Tidak!”

Tentu saja tidak!

Ketahuilah mereka melakukannya tidak dengan sukarela, tapi karena merasa ada tekanan.

Kalau tidak sesuai dengan keinginan si ‘pemimpin’ maka dia akan dikucilkan.

Si pengikut paham akan hal itu, sehingga si pemimpin tidak perlu repot-repot membuat ‘aturan’.

Tapi yang namanya ‘pemimpin’ bisa saja sewaktu-waktu tidak suka dengan salah satu pengikut, maka si pengikut itu akan dikucilkan, dan langkah ini akan diikuti oleh pengikut yang lain, sampai akhirnya si pemimpin memutuskan sudah waktunya berbaikan dengan yang dikucilkan.

Masih bilang “Aaah biasa ini anak-anak” atau “Tapi memang hal yang wajar kan kalau anak-anak ini melakukan hal yang mereka senangi bersama, jadi apa anehnya?

Coba amati dengan seksama, seobyektif mungkin, walau kalau terhadap anak sendiri maka faktor subyektifitas pasti akan lebih dominan. Ajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa menginterogasi mereka, terutama ajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait perasaan mereka.

Coba sensitif.

Jika tadinya anda merasa, atau anda pikir anda merasa, anak anda mau berteman dengan siapa saja lalu sekarang cuma beberapa orang saja yang diceritakan secara terus menerus.

Atau bahkan sebaliknya, yang tadinya sering cerita tentang teman-temannya, tiba-tiba menjadi tidak punya cerita.

Ingat lho, kewajiban kita sebagai orangtua untuk tahu apa yang terjadi pada anak kita dan teman-temannya. Karena ketika mereka bersosialisasi, teman-temannya adalah anak-anak kita juga.

(Masih bersambung dengan bagaimana kita mendampingi anak-anak kita yang menjadi “pemimpin”, yang menjadi “pengikut” atau yang menjadi “korban” :D )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>