Ibu (ga mau) Galau

Sebenarnya, dibanding saya 3 atau 4 tahun lalu, kadar “mellow” saya sudah menurun cukup signifikan. Artinya, saya tidak lagi mmmm… meratapi (halah!) gadis kecil saya yang setiap tahun semakin besar (ya iya lah). Biasanya di bulan Juni, Juli dan Desember, saya mengalami apa yang saya sebut “mellow”. Bisa berhari-hari saya memutar lagunya ABBA, Slipping Through My Fingers, dan tentu saja ikut menyanyikannya.

Sejak tahun lalu dan tahun ini, saya merasakan obyektifitas saya terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak saya itu lebih kuat ketimbang subyektifitas saya, yang ingin sekali si anak tetap kecil, imut-imut dan sebagainya itu.

Ya, bilang deh saya berlebihan dan sebagainya.

Tapi ini kan yang saya rasakan… Rasanya sebagai ibu, saya selalu merasa kurang membekali dia, terlalu protektif dan akhirnya saya merasa waktu saya bersamanya semakin lama semakin berkurang.

Akan tiba satu saat di mana dia akan berjalan sendiri. Dan saya merasa belum siap.

Tahun ini, gadis saya itu sudah duduk di kelas 6 SD.

Wow!!!! Saya bahkan masih ingat setiap kalimat yang saya tulis di blog ini ketika saya mencari SD untuknya. Dan itu 5 tahun yang lalu.

Dan sekarang dia duduk di tingkat akhir sekolah dasar.

Kemana waktu-waktu selama ini?

Rasanya, baru kemarin dia mengenakan seragam sekolah dasarnya yang baru, walau saya paham betul keadaannya tidak seperti yang saya rasakan.

Tuh! saya mulai “mellow

Padahal, saya paham betul bagaimana perkembangannya. Tidak hanya intelektualitasnya, tapi terutama sosial emosionalnya. Saya mengikuti setiap detilnya. Sayangnya hal ini tetap saja membuat saya merasa cepat sekali waktu berlalu.

Mungkin saya terlalu protektif, sampai setiap awal semester saya mengharuskan diri saya untuk berkonsultasi dengan siapapun wali kelasnya untuk mendiskusikan karakternya, dan kiat-kiat menghadapi ke-moody-annya dalam belajar.

Mungkin saya terlalu kuatir dengan keadaan sosial emosionalnya, sehingga saya merasa perlu “mendampingi”nya ketika dia berkonflik dengan teman-temannya, lagi-lagi untuk menjaga ke-moody-annya.

Mungkin saya sok tahu, sehingga saya merasa harus mempersiapkan alternatif  ”jalan”nya, jika pendidikan formal ternyata tidak cocok untuknya.

Padahal, saya paham betul, langkahnya mungkin masih ada jutaan, bahkan tidak terhitung. Apa yang ada padanya saat ini, tidak berarti akan melekat selamanya. Tapi mungkin saya terlalu kuatir dan galau :D

Lagi-lagi didorong oleh rasa kuatir saya akan ke-moody-annya yang berresiko pada kelancaran selama kelas 6 dan menghadapi segala ujian  sekolah dan nasional itu, saya bertanya pengalamannya di hari pertama sekolahnya.

Saya kuatir dia kesal karena dipisahkan (lagi) dengan teman dekatnya, dan sekarang si teman itu memilih untuk bergaul dengan anak-anak lain. Akan tetapi, sambil tersenyum-senyum dia menjawab kelasnya ok, teman-temannya ok, guru dan asistennya asyik, MOSnya asyik, makan siangnya enak juga.

Salah saya jika kemudian saya menanyakan bagaimana dengan temannya, bagaimana dia tanpa temannya itu, dan muka gadis saya berubah kesal. Dia hanya menjawab pendek “Ah biar saja, suka-suka dia mau main sama siapa. Aku kan juga ada teman lain”. Mungkin dia kesal pada pertanyaan saya, bukan pada fakta dia terpisah dari temannya.

Rasanya ingin saya menjitaki kepala saya sendiri, memaki ketololan dan kekuatiran yang tak beralasan.

Dan tiba-tiba terngiang lagi perkataan gurunya siang tadi, setelah kami berdiskusi panjang lebar “Ibu juga jangan terlalu kaku dan kuatir, santai saja bu. Selama kita mengomunikasikan apapun yang perlu, mudah-mudahan masalah segera teratasi”.

Ah! Jangan-jangan saya yang butuh bimbingan psikolog…. :(

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>