Entah beberapa tahun lalu, saya sendiri sempat meragukan cara saya mendidik anak saya.
Terutama dalam hal religi. Agama. Keyakinan.
Arus utama melakukan begini. Saya (dan suami) melakukan begitu.
Ada banyak pertanyaan yang menghampiri saya, dan terkadang saya tidak punya jawaban yang memuaskan mereka. Tapi tokh saya jalan terus, karena ya memang itu yang saya yakini.
Saya berkeyakinan, agama (apapun itu) yang dianut seseorang adalah pilihan pribadi orang tersebut. Kendati demikian, sebagai orang yang dibesarkan dengan agama dan kultur tertentu, saya pun memperkenalkannya pada anak saya. Sekedar membuatnya tahu bahwa ini lho agama yang kami anut, begini lho tata cara dan kebiasaannya, begitu lho ritualnya.
Saya mengajaknya melakukan kebiasaan dan ritual itu, tapi saya tidak memaksanya. Kadang-kadang dia mau, kadang-kadang dia tidak mau. Bukan masalah bagi saya. Tapi masalah bagi orang lain. Saya dianggap tidak mengajarkan agama pada anak saya.
Ketika orang lain berlomba-lomba menceritakan pengalamannya mengajarkan anaknya (bahkan yang masih balita) untuk berpuasa, bahkan dengan mengiming-imingi berbagai hadiah, saya bergeming. Saya tetap dengan apa yang selama ini saya lakukan, mengajaknya dan membiarkannya memilih untuk melakukan atau tidak melakukan.
Kenapa? Apa kamu tidak takut dimintai pertanggungjawaban kelak karena tidak mendidik agama pada anakmu? Pertanyaan itu entah berapa kali mampir, tapi saya hanya nyengir lebar, atau kalau sudah kesal saya akan menjawab “Biarlah, itu urusan saya dengan Yang Maha Pencipta”.
Kadang-kadang, seperti yang saya bilang di awal tulisan ini, saya berpikir apakah saya salah dalam mendidik anak saya. Terutama ketika dia suatu masa benar-benar menolak ajakan saya menjalani ritual.
Akan tetapi, keyakinan bahwa saya berada di arah yang tepat selalu kembali menyadarkan saya, segala sesuatunya, termasuk mendidik anak, adalah proses. Proses yang tidak pernah berhenti.
Keinginan saya sederhana, dia memilih keyakinannya karena dia memang meyakininya, dia melakukan ritual-ritual itu karena dia membutuhkannya, bukan karena dia takut. Saya ingin, dia menyadari Tuhan, bukanlah sosok yang pemarah dan senang menghukum, melainkan sebaliknya: Maha Pengasih dan Penyayang. Sehingga pada akhirnya, dia akan beribadah, berdoa, sembahyang, mengaji, berpuasa karena dia yang butuh, karena kesadarannya.
Jadi, ketika kemarin malam, malam pertama menjelang puasa Ramadhan 1433 H, dia minta dengan sangat untuk dibangunkan saat sahur (biasanya dibangunkan, tapi terserah dia mau bangun atau tidak), mengisi edaran sekolah yang menandakan dia tidak ikut katering selama puasa, dan minta izin untuk tidak mengikuti kegiatan olah raga, saya hanya mengangguk dan memenuhi keinginannya.
Saya berharap, inilah cikal bakal proses yang saya tanam selama ini. Kesadarannya.