Dukungan terhadap Prita Mengalir di Facebook

JAKARTA, KOMPAS.com — Dukungan terhadap Prita Mulyasari yang kini ditahan di LP Wanita Tangerang karena menulis surat keluhan di internet atas layanan RS Omni Internasional Alam Sutra mengalir deras di Facebook. Halaman dukungan yang dibuat oleh Ika Ardina pada Jumat (29/5), hingga berita ini diturunkan sudah berhasil menggalang 23.000 dukungan.

Di Halaman itu, Facebooker juga menuliskan komentar terkait kasus ini. Seorang Facebooker, Panji Wijanarko, menulis, “Keadilan harus ditegakkan. Orang emang pelayanannya udah buruk, kok masih mau nyangkal dibilang pencemaran nama baik. Kalau emang bagus, kenapa ada konsumen yang protes.”

Facebooker lain, Rahmad Sabri, menulis, “Wahai RS yang tersohor, kalau pelayanan Anda bagus, enggak akan mungkin pasien akan kabur gara-gara keluhan kecil yang seharusnya menjadi masukan untuk Anda.” Continue reading »

Deteksi Dini Dan Tanda Bahaya Penyakit DBD


Deteksi Dini DAN TANDA BAHAYA Penyakit DBD
Selasa, 30 Jan 2007 13:19:14

Pdpersi, Jakarta Deteksi Dini DAN TANDA BAHAYA Penyakit DBD

Dr Widodo Judarwanto SpA

Si Udin yang berusia 5 tahun meninggal secara tragis karena penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Orangtuanya menolak bila
dikatakan oleh dokter bahwa penderita terlambat dibawa ke rumah sakit. Saat panas hari ke 1-2 anaknya berturut turut dibawa ke dokter dan hanya dikatakan menderita infeksi tengorokan. Selama rawat jalan saat hari ke 3 diagnosis berubah menjadi gejala tifus. Selanjutnya pada hari ke 5 dinyatakan meninggal karena penyakit DBD hanya berselang beberapa jam setelah masuk rumah sakit. Tampaknya kasus ini terjadi karena deteksi dini dan tanda bahaya DBD tidak dipahami dengan baik. Bagaimana agar DBD khususnya pada anak dapat diketahui secara dini? Tanda bahaya apakah yang harus dicurigai agar tidak terjadi keterlambatan?. lanjutannya

Larangan Merokok Masih Dilanggar

Larangan Merokok Masih Dilanggar

Perlu Revisi Perda Pencemaran Udara

Jakarta, Kompas – Larangan merokok di tempat umum dan tempat-tempat tertentu di Jakarta hingga saat ini masih sering dilanggar. DPRD DKI Jakarta akan merevisi peraturan daerah soal pencemaran udara, terutama soal sanksi agar lebih mudah dilaksanakan. Bulan September perda baru itu akan berlaku.

Pengamatan Kompas pada hari Jumat (8/6) menunjukkan, di kawasan Kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri, larangan merokok masih dilanggar. Padahal, sudah disediakan tempat khusus bagi perokok.

Di sejumlah tempat umum, pelanggaran terhadap Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Larangan Merokok pun masih sering terlihat. lanjutannya

Poligami Bukan Identitas Keislaman

**Ada di blog gue yang lama, tulisan rekan Eko Bambang, relevan banget sama pernyataan "Lebih baik poligami daripada TTM"**

Rabu, 27 Juli 2005

Poligami Bukan Identitas Keislaman

Jurnalis : Eko Bambang S

Jurnalperempuan.com-Jakarta.

Wacana pro poligami seringkali dipolitisir sebagai upaya untuk mengamalkan Syariat Islam secara kaffah. Atas dasar itu, dalam wacana pro-poligami, Syariat Islam disosialisasikan sebagai yang membolehkan, menetapkan, menganjurkan, memastikan ada hikmah, menyelamatkan perempuan, membuka jalan da’wah, menjadikan satu-satunya alternatif menghindari perzinahan dan memberikan label-label positif terhadap praktek poligami. Lebih dari itu, sosialisasi diperluas dengan penggunaan slogan-slogan yang memperkuat wacana pro poligami seperti "Poligami Itu Indah", "Poligami Itu Sunnah", "Indahnya Poligami", "Poligami Membawa Berkah", "Membangun Rumah Di Surga Dengan Poligami", "Beribu Hikmah Dalam Poligami", "Kalau Nabi Saja Berpoligami, Mengapa Kita Tidak", "Poligami Itu Cara Allah Membebaskan Perempuan Dari Keterpurukkan", "Satu-satunya cara laki-laki menghindar dari zina, ya poligami", "Laki-laki yang tidak berpoligami itu hanya tiga kemungkinan; selingkuh, impoten atau bukan laki-laki" dan sejumlah slogan lainnya.

Menurut Faqihudin dari Fahmina Institute Cirebon menegaskan bahwa slogan-slogan tersebut sedang berupaya keras untuk mengukuhkan bahwa poligami merupakan identitas Islam. Islam tanpa poligami adalah Islam yang tidak Kaffah, bahwa lebih mengerikan lagi Islam yang liberal dan kafir yang halal untuk dihanguskan. Pendapat Faqihudin tersebut disampaikan dalam diskusi buku "Demokrasi Keintiman; Seksualitas Di Era Global" Karya Ratna Batara Munti di Jakarta, Jumat (22/07/05).

Sebagai Cendekiawan Muslim, Faqihudin menegaskan bahwa perdebatan poligami-monogami seharusnya dihadapkan pada persoalan realitas yang nyata dan terjadi, tidak pada dualisme Islam versus tidak Islam. Poligami tidak bisa dijadikan salah satu ukuran keislaman atau keimanan seseorang. Bagi Faqihudin hal yang menjadi prinsip dalam perdebatan tersebut adalah soal keadilan dan anti kezaliman. Prinsip itulah yang seharusnya menjadi ukuran untuk mendiskusikan, membicarakan dan pada akhirnya memilih poligami atau monogami.

"Jika prinsip utama dalam diskusi poligami-monogami adalah keadilan dan anti kezaliman, maka alasan-alasan parsial tidak bisa serta merta menjadi pembenar poligami. Alasan-alasan poligami, yang seringkali muncul hanya untuk kepentingan laki-laki, tidak bisa serta merta dihadapkan dengan prinsip keadilan dan anti kezaliman,"ujar Faqih. Ia menambahkan, "Karena poligami bersifat parsial, sementara keadilan bersifat prinsipal, maka yang parsial justru harus tunduk pada yang prinsip. Oleh karena itu tidak bisa dikatakan bahwa ketakutan berzina bisa menjadi alasan berpoligami. Ketakutan terhadap zina, bisa diredam dengan berbagai cara dan bisa dilakukan dengan cara-cara yang halal dan tidak menimbulkan mafsadah kepada pihak lain," tambah Faqih.

Dalam konteks itu menurut Faqihudin sangat tidak tepat jika poligami lebih baik dari berzina karena ungkapan itu seringkali menjadi dasar bagi kewenangan berpoligami. Berzina tentu saja buruk, dan lebih buruk dari poligami, tetapi keduanya tidak tepat dihadapkan begitu saja, apalagi untuk memotivasi praktik-praktik poligami. Ungkapan itu hanya benar dari sisi pemenuhan seksual semata tetapi tidak sepenuhnya menjadi pilihan yang tepat, karena monogami juga lebih baik dari berzina, tidak kawin, bahkan onani dan masturbasi juga jauh lebih baik dari berzina dan semua itu bisa menjadi alternatif dari berzina.

Menurut Faqihudin, baik ayat al-Quran maupun teks-teks Hadist yang terkait dengan persoalan poligami-monogami, sebenarnya lebih menekankan pada kritik terhadap poligami, baik kritik ketidakadilan, ketertindasan, kezaliman,aniaya, permusuhan dan pemutusan hubungan keluarga dan kekerabatan (silahturahmi). Karena itu baik Al-Quran maupun Hadist tidak bisa menjadi basis apresiasi terhadap poligami seperti memerintahkan, menganjurkan, memuji atau menganggapnya sebagai syari’at dan ibadah. Bahkan kebolehan poligami -mungkin-tidak bisa diambil basis argumentasinya dari Al-Quran dan Hadits, karena poligami telah ada dan dipraktikkan jauh sebelum Islam datang. Bukan Islam yang membawa poligami, tetapi Islam melalui Al-Quran dan Hadits justru yang mengkritik poligami. Kritik inilah yang seharusnya diteruskan terhadap praktik-praktik poligami yang akhir-akhir ini marak terjadi dengan asumsi dukungan syariah dan harus selalu diletakkan pada meja penghakiman; sejauh mana ia telah menerapkan prinsip keadilan yang diperintahkan Al-Quran. "Atas dasar itulah, maka janganlah menjadikan poligami sebagai perwujudan Syariah Islam yang kaffah, karena poligami bukan identitas keislaman," ujar Faqihudin.

Children Learn What They Live

Children Learn What They Live
By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and
in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in
which to live.

Copyright © 1972 by Dorothy Law Nolte