Setelah Raport

Kamis kemarin, anak saya menerima raport semester 1-nya. Dia telah menyelesaikan setengah jalannya di kelas 5.

Huh! Jadi ingat lagi betapa waktu 10 tahun serasa sekejap saja.

Kamis itu, saya menjemputnya di lapangan bola tempatnya berlatih bersama timnya.

Mereka belum tiba di lapangan pada saat saya sampai. Tapi saya tidak menunggu lama sampai akhirnya saya bisa melihatnya menghampiri saya, sambil melambaikan map biru yang berisi raport, deskripsi dan angka.

Dia masuk ke dalam mobil, sambil menyodorkan raportnya.

“Bagus lho, ma” katanya, sambil menyambar makanan ringan yang saya bawa.

Saya tidak menjawab, hanya membuka map itu, dan mulai membaca lembar demi lembar raport deskripsinya. Continue reading »

repost: Anakku, “Chatterbox” :D

Catatan yg pernah saya buat beberapa tahun lalu, dan saya posting lagi sekarang karena ada beberapa peristiwa yang membuat saya teringat pernah menuliskannya :D .

Rencananya saya akan membuat beberapa tulisan mengenai pergaulan di kalangan anak-anak, mudah-mudahan malam ini tidak terlalu mengantuk..

Sekedar berbagi saja dengan orangtua, yang concern dengan anaknya tentu. Tidak hanya masalah akademis, tapi juga masalah pergaulan dan sosialisasi…

************

Beberapa malam lalu, setelah posting macam2 artikel tentang parenting yang topiknya bisa dikatakan merupakan rangkuman dari bukunya Rosalind Wiseman, Queen Bees and Wannabees, saya iseng-iseng menjawab pertanyaan-pertanyaan quiz, yang konon bisa mengindikasikan apakah anak anda pe-bully atau berpotensi sebagai “korban” bully. Continue reading »

Anak Perlu Latihan Untuk Menerima Konsekuensi

Setiap anak saya pulang sekolah pasti saya sempatkan untuk membaca buku komunikasinya, dan kemudian mendiskusikan jika ada yang perlu dibicarakan.

Kadang-kadang memang tidak tepat pada saat dia sampai, karena saya juga punya kegiatan sendiri. Tapi minimal saya akan menelponnya jika kebetulan saya tidak ada di rumah ketika dia datang.

Setelah menanyakan kabarnya seharian. Main apa. Makan apa. Ada hal yang menarik atau yang menyebalkan hari ini, dan sebagainya, saya akan masuk ke dalam topik tugas sekolah, termasuk PR.

Sekolah anak saya bisa dikatakan tidak seperti sekolah “konvensional” pada umumnya. Yang memberikan PR berupa soal latihan, diberikan hampir setiap hari, untuk setiap mata pelajaran dengan dalih supaya anak bisa lebih menguasai, atau parahnya untuk segera menyelesaikan materi pelajaran.

Saya bukannya tidak setuju pada pemberian PR. Continue reading »

Privasi…

Sekalipun sudah bersiap-siap, namun ketika masa itu datang saya toh masih juga merasa ada yang mengganjal :)

Ceritanya begini…

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang teman yang berkata bahwa bukan suatu perbuatan yang bijak jika kita menceritakan sesuatu tentang anak kita kepada orang lain, sekalipun yang kita bicarakan ini adalah hal-hal yang baik. Menurut teman saya itu, perbuatan kita termasuk dalam kategori melanggar privasi si anak. Begitu juga dengan menampilkan foto-foto si anak. Continue reading »

Hati-hati bicara!!!!!

Pagi tadi, dalam perjalanan mengantar ke sekolah, saya bercerita pada suami bahwa kemarin anak kami praktek membuat bubur candil pada saat kegiatan ekstra kurikuler.

“Tapi aku ga dibagi.” begitu keluhan saya di akhir cerita, yang langsung dijawab kalau waktu itu tidak disediakan plastik, jadi dia tidak bisa membungkus bubur candil itu untuk oleh-oleh. Continue reading »